Jakarta – Pemerintah didesak segera melakukan perombakan total terhadap strategi pendidikan nasional menyusul anjloknya skor PISA 2025.

Anggota Komisi X DPR RI,Abdul Fikri Faqih,menegaskan bahwa perbaikan kualitas pendidikan tidak boleh lagi sekadar mengandalkan perubahan kurikulum administratif di atas kertas.Transformasi pembelajaran harus berfokus pada penguatan pedagogi guru serta pendekatan psikologis yang lebih humanis.

Metode ceramah dan hafalan yang selama ini mendominasi kelas perlu digantikan dengan pola penemuan konsep secara kolaboratif antara pendidik dan peserta didik.

Tingginya angka perundungan di lingkungan sekolah menjadi alarm keras yang menghambat efektivitas penyerapan materi akademik siswa.

Fikri mengingatkan bahwa otak manusia tidak akan mampu menyerap pelajaran secara optimal saat berada dalam kondisi terancam atau mode bertahan hidup.

Keberadaan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) saat ini dinilai masih sebatas formalitas administratif yang gagal menyentuh akar persoalan.

Setiap anggota TPPK wajib dibekali kompetensi khusus dalam mediasi psikologis serta teknik investigasi yang netral demi melindungi korban.

Perlindungan kerahasiaan pelapor menjadi kunci krusial untuk membangun keberanian siswa dalam melaporkan tindak kekerasan di sekolah.

Terkait rendahnya skor Matematika, pemerintah disarankan mengadopsi metode visualisasi dan penggunaan benda konkret seperti yang sukses diterapkan di Singapura.

Pendekatan tersebut terbukti jauh lebih efektif dalam membangun pemahaman konsep yang mendalam dibandingkan sekadar menghafal rumus abstrak.

Pemerintah juga perlu memberikan otonomi lebih luas kepada guru dalam menentukan metode pengajaran yang sesuai dengan karakter murid.

Model pendidikan di Estonia dapat menjadi acuan di mana pendidik diberikan ruang kreativitas tanpa harus terbebani oleh birokrasi yang kaku.

Guru harus dibebaskan dari tumpukan beban administrasi agar perhatian penuh dapat dicurahkan pada proses interaksi di dalam kelas.Tanpa perubahan esensial pada cara mengajar dan lingkungan belajar,anggaran pendidikan yang besar berisiko terbuang sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *