Tangerang – Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, dewi Coryati, mendorong pemerintah untuk segera memasukkan materi perubahan iklim ke dalam kurikulum pendidikan nasional.
Langkah strategis ini dinilai krusial guna membekali generasi muda dengan wawasan mendalam serta kemampuan solutif dalam menghadapi ancaman krisis lingkungan global.
Dewi menekankan pentingnya menanamkan kesadaran ekologis secara sistematis mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.”Pendidikan mengenai kesadaran lingkungan harus dimulai dari awal, bahkan persoalan lingkungan yang mendasar sudah bisa diperkenalkan di tingkat SD,” ujar Dewi usai menghadiri AIPA – indonesia National Focus Group Discussion on Climate Change di BINUS Alam Sutera, Jumat (18/9/2026).
Politisi Fraksi PAN ini mengusulkan pembiasaan praktik ramah lingkungan seperti pemilahan sampah dan pengurangan penggunaan barang sekali pakai bagi siswa sekolah dasar.
Pola edukasi tersebut diharapkan mampu membentuk karakter peduli lingkungan sekaligus menekan volume sampah secara signifikan sejak dini.
Bagi jenjang pendidikan tinggi, Dewi mendorong pengembangan kurikulum yang lebih fokus pada riset inovatif serta pemanfaatan energi baru terbarukan.
Mahasiswa diharapkan mampu melahirkan terobosan teknologi yang efektif dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah dan krisis energi nasional.
“Di universitas, kita tentu bisa melakukan riset dan inovasi sehingga masalah sampah ini akan bisa teratasi,” tambahnya.
Edukasi berkelanjutan ini diproyeksikan mampu memutus ketergantungan generasi muda terhadap energi fosil yang tidak ramah lingkungan.
Transisi menuju pemanfaatan energi terbarukan menjadi kunci utama dalam upaya kolektif menahan laju kenaikan suhu bumi.
“Dampaknya adalah kenaikan suhu di dunia ini, di bumi ini, bisa kita tahan,” pungkasnya.










